Search for
Login | Username Password Forgot? | Email: | Create Account
Personal / Other | Entries: 50 | Views: 415 | Updated: 3 years ago | | Add to My Feeds
Report
Bola Api Pembawa Petaka
August 9th, 2008

Mata kita melihatnya sebagai bola api, sementara orang di Gunung Kidul sana menyebutnya pulung. Kehadirannya selalu mengundang rasa ngeri. Pasalnya, ia dipercaya sebagai pembawa sasmita gaib. Ada saja musibah yang terjadi jika ia muncul. Tetapi, kengerian dan tanda tanya juga melanda negara maju seperti Amerika dan Eropa, meskipun keberadaannya tetap mengundang kontroversi.

Tukirah yang tidak kunjung sembuh dari sakitnya, meminta ibunya membelikan sawo. Jadi, Mbok Tumikem, janda berumur 60 tahun itu pun pergilah ke pasar. Ketika ia kembali, Tukirah sudah tewas tergantung di kayu langit-langit ruang tamu rumah mereka. Wanita itu menjerat lehernya sendiri dengan kain.

Peristiwa itu terjadi 9 September 1989 di Dusun Siraman II, kecamatan Wonosari, Kabupaten Gunung Kidul, Jawa Tengah. Menurut para tetangga, rumah Mbok Tumikem ketiban (kejatuhan) pulung gantung, yaitu roh jahat yang berwujud bola cahaya sebesar kepalan, berekor dan berwarna hijau kemerahan. Kata mereka, pulung gantung inilah yang mendorong Tukirah yang sedang menderita itu bunuh diri.

Pulung, sebuah petanda

Tukirah tewas menghadap ke utara. Beberapa bulan kemudian, di rumah tempat Tukirah menggantung diri, tetapi lebih ke utara, Solinah ditemukan tewas gantung diri dengan setagen. Solinah ini anak Mbok Tumikem juga. Kata orang, gara-gara pulung gantung datang untuk kedua kalinya ke rumah janda malang itu, Mbok Tumikem disarankan membongkar rumahnya. Tapi kalau dibongkar, ke mana ia dan sisa keluarganya mesti tinggal? Mau dijual, siapa yang mau membeli rumah tempat dua orang pernah gantung diri?

Untuk mencegah pulung gantung menyatroni lagi rumahnya, setiap malam Mbok Tumikem tidur di depan pintu rumahnya. Rupanya, pulung gantung lantas memilih korban lain.

Empat bulan kemudian, di sebuah dusun sebelah tenggara kediaman Mbok Tumikem, Noto Triman didapati tewas gantung diri. Lalu pada hari Rabu Kliwon 9 Oktober 1991, Ngadimin alias Surip, warga Dusun Ngandong, Kecamatan Patuk di Kabupaten Gunung Kidul pula, mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri. Dengan tewasnya Surip, berarti di Kabupaten Gunung Kidul, selama kurun waktu 10 tahun terjadi 17 kasus bunuh diri.

Walaupun penduduk menuding pulung gantung, sesepuh Desa Siraman, Hadi Sumarto yang tahun 1991 itu berumur 74 tahun berpendapat, pulung bukanlah pendorong seseorang untuk bunuh diri, melainkan sekadar sasmita gaib atau petanda sesuatu akan terjadi. Mantan anggota DPRD itu mengganggap pulung itu semacam Komet Halley.

Komet Halley yang berekor kembali ke pusat Tata Surya setiap 76 tahun sekali. Terakhir kita melihatnya tahun 1986. Entah kenapa, pemunculannya sering dihubungkan dengan kedatangan petaka.

Komet adalah bongkahan es atau batu yang tersisa dari kelahiran Tata Surya. Komet mengorbit matahari. Kalau mendekati matahari ia mengeluarkan uap dan membentuk ekor dari debu dan gas. Tiap komet mempunyai ekor debu dan ekor gas.

Apakah benda ruang angkasa ini bisa dituding sebagai pulung gantung? Ataukah ada cahaya ajaib jenis lain?

Menggendong bara api neraka

Bukan cuma di Gunung Kidul. Di Eropa dan Amerika Serikat juga dikenal ‘cahaya gaib’ yang membawa petaka. Cahaya itu dijuluki will o the wisp atau jack o lantern. Cuma bentuknya bukan bola berekor berwarna hijau kemerahan, tetapi seperti cahaya lentera, biru berkelip-kelip. Konon cahaya itu hantu gentayangan yang menggendong bara api neraka ke mana-mana. Hantu itu menyesatkan orang-orang yang mengikutinya sehingga terperosok ke semak-belukar atau rawa-rawa yang berbahaya.

Kepercayaan akan cahaya pembawa petaka, muncul di Barat saat penerangan dengan lampu gas belum dikenal. Tanpa mempersoalkan jahat baiknya, cahaya yang bisa berpindah-pindah itu sebetulnya bukan khayalan atau takhayul semata. Sampai saat ini, di tempat-tempat terpencil yang jauh dari jangkauan penerangan listrik, cahaya semacam itu masih bisa ditemukan, yaitu dikeluarkan oleh gas methane yang dihasilkan oleh tanaman yang membusuk di rawa-rawa. Penerangan terang benderang, seperti yang dihasilkan oleh lampu gas atau lampu listrik, membuat cahaya gas itu tidak tampak.

Menggelinding masuk pesawat

Jimmy Carter, mantan presiden Amerika yang bulan Juni 1999 memantau Pemilu di Indonesia, termasuk orang yang pernah melihat ‘cahaya ajaib’.

Pada 1973, saat ia masih menjadi Gubernur Negara Bagian Georgia, ia melihat cahaya cemerlang yang warnanya berubah-ubah di langit. Cahaya itu mengambang kira-kira 10 menit di ketinggian sekitar 90 m, lalu turun ke ketinggian atap rumah. Sesudah bergerak kian kemari, cahaya itu menghilang. Dua belas orang lain melihat cahaya yang sama.

Menurut penjelasan ‘resmi’, benda itu Planet Venus. Namun orang sangsi. Carter adalah seorang ilmuwan dan pernah menjadi komandan Angkatan Laut. Ia terbiasa memanfaatkan benda-benda langit untuk pelayaran. Mustahil ia tidak mengenali Planet Venus?

Kalau pulung gantung membawa sial, tidak demikian dengan bola cahaya yang masuk ke sebuah pesawat milik Angkatan Bersenjata Amerika dalam penerbangan ke Elko di Nevada 16 Juni 1960. Saat berada di tengah lapisan awan di ketinggian 6.000 m, pilot melihat sebuah bola cahaya bergaris tengah kira-kira 0,50 m muncul tanpa suara di kaca depan pesawat. Bola berwarna kuning keputih-putihan itu masuk dan bergerak secepat orang berlari di antara tempat duduknya dengan tempat duduk co-pilot. Lalu melalui lorong ia melewati tempat duduk ahli navigasi dan ahli mesin. Bola cahaya itu kemudian menggelinding sepanjang ruang barang lalu menari-nari di sayap kanan pesawat sebelum lenyap di kegelapan malam.

Laporan mengenai bola cahaya semacam ini merupakan salah satu fenomena alam yang belum bisa dijelaskan secara ilmiah. Bahkan keberadaannya pernah lama tidak diakui. Meteorit-meteorit yang jatuh ke Bumi pun dulu pernah dianggap cuma cerita takhayul para petani yang bodoh. Sampai-sampai koleksi meteorit langka pernah diambil dari museum untuk dimusnahkan karena dianggap takhayul.

Bukan takhayul, tapi apa?

Kontroversi tentang bola cahaya sudah muncul sejak abad ke-19. Tahun 1890 sejumlah bola bercahaya muncul dalam tornado, angin ribut yang berputar dengan kekuatan besar. Bola cahaya itu lantas menjadi pokok pembahasan Akademi Ilmu Pengetahuan Prancis yang termasyhur dan bergengsi itu.

Menurut laporan, ada bola cahaya yang masuk ke rumah lewat cerobong asap dan keluar dengan membuat lubang-lubang bulat di jendela. Perdebatan sengit pun berlangsung. Ada anggota Akademi yang menyatakan bahwa orang-orang yang melihat bola api itu mestinya menderita ilusi. Sebagian besar menyimpulkan, hasil pengamatan petani-petani yang tidak berpendidikan tidak bernilai.

Lalu mantan Kaisar Brazil, Dom Pedro II d’Alcantara yang merupakan anggota asing pada Akademi itu buka suara. Ia melihat sendiri bola api itu. Pernyataannya membuat sidang terdiam. Walaupun demikian, sampai sekarang laporan tentang bola api masih sering dicurigai sebagai takhayul.

Seorang ahli kimia Rusia, M.T. Dmitriev, membuat laporan rinci mengenai pengalamannya tahun 1967. Ketika itu ia sedang berkemah di tepi Sungai Onega di Rusia Barat. Tiba-tiba kilat menyambar. Lalu muncullah sebuah bola api yang mengambang kira-kira 30 cm di atas permukaan air. Bentuknya bukan bundar tapi agak lonjong. Benda itu gemeretak dan berdesir ketika terbang di atas kepalanya lalau pindah ke tepi sungai. Benda itu mengambang diam di udara selama kira-kira 30 detik.

Ketika melewati gerombolan pepohonan ia meninggalkan asap kebiru-biruan yang baunya sangit. Benda itu kemudian melompat-lompat seperti bola biliar dari satu pohon ke pohon lain sambil menyemburkan bunga api. Semenit kemudian ia hilang.

Dari laporannya ini dan laporan-laporan lain, diketahui bahwa bola cahaya biasanya tidak bundar benar, tetapi lonjong atau bentuknya seperti buah jambu biji. Tepi-tepinya tidak bergaris tegas, tetapi agak kabur. Ada yang ukurannya sekelereng, ada yang garis tengahnya kira-kira semeter.

Cahayanya secemerlang bola lampu pijar. Warnanya macam-macam, tetapi sering merah, jingga, atau kuning. Ada yang tampak cuma sedetik, ada yang sampai semenit. Bola api itu ada yang menghilang tanpa bunyi, ada yang disertai ledakan.

Dianggap ilusi optik

Pernah ada bola api yang menyebabkan kerusakan materi seperti yang dilaporkan oleh koresponden Daily Mail pada 1936. Katanya, saat terjadi angin topan, ia melihat bola merah yang sepertinya panas. Ukurannya sebesar jeruk. Bola itu datang dari angkasa, menghajar rumah, memutuskan kabel telepon, membakar kusen jendela dan mencebur ke sebuah wadah air di bawah jendela. Air itu bergolak-golak beberapa menit. Ketika sudah cukup dingin untuk diperiksa, ternyata di dalamnya tidak ditemukan apa-apa.

Pernah pula ada laporan sebuah bola cahaya berwarna merah bergaris tengah kira-kira 60 cm menggelinding membentuk parit sepanjang 91 m dan sedalam 1 m di tanah lembek dekat sebuah sungai kecil, lalu membentuk 23 m parit lagi di dasar aliran air itu.

Untuk bisa melakukannya diperlukan tenaga yang kuat. Namun tidak didapati pengaruh nuklir. Walaupun survei terhadap 4.000 karyawan NASA menunjukkan bahwa bola cahaya tidak asing bagi mereka, banyak ilmuwan tetap masih menyangkal keberadaannya.

Menurut ilmuwan Kanada, Edward Argyll, bola cahaya cuma ilusi optik. Katanya, kalau petir menyambar tanah, terciptalah cahaya cemerlang. Orang-orang yang melihat cahaya benderang itu matanya masih seakan-akan melihatnya selama 2-10 detik kemudian (after-image) dan menganggap benda yang tidak ada itu sebagai bola cahaya. Katanya, hal ini cocok dengan laporan yang menyatakan bahwa bola cahaya tampak antara 2-10 detik.

Walaupun after image tidak bisa disangkal, bagaimana dengan bola cahaya yang meninggalkan bekas-bekas fisik keberadaannya? Argyll menolak bukti-bukti itu dengan berkata, “Kalau bola cahaya cuma ilusi optik, laporan-laporan ini tidak layak dikategorikan bisa dipercaya.”

Ada orang-orang yang mempertanyakan: kalau bola itu merupakan hasil pembakaran gas yang keluar dari tanah akibat sambaran petir, mana mungkin bisa mencapai ketinggian sebuah pesawat? Mana mungkin ia bisa menembus tembok seperti banyak dilaporkan?

Tempat setan berjalan-jalan

Kalau ingin menyaksikan bola cahaya yang ajaib itu, Anda bisa mengadu untung ke Hornet Spooklight Road, sebuah jalan terpencil sekitar 20 km di barat daya Kota Joplin, Missouri, Amerika. Di dekatnya ada tempat yang dijuluki Devil’s Promenade, tempat setan berjalan-jalan. Sejak 1866 di Spooklight sering muncul bola cahaya sebesar bola basket atau lebih besar lagi.

Seorang penduduk Miami, Oklahoma, Steve Hale merasa penasaran dan menyatroni tempat itu beberapa kali. Bulan Juli 1998 ia berhasil memergokinya.

Biasanya bola itu menggelinding cepat di tengah jalan berkerikil, lalu naik, melompat-lompat dan melesat ke kanan-kiri. Kelihatannya seperti lentera besar, tapi tidak ada yang membawanya.

Cahaya itu pernah muncul dalam kendaraan-kendaraan, tetapi menjauh kalau dikejar. Tidak seorang pun pernah dicederainya. Cuma saja orang takut lewat di jalan itu pada malam hari, sebab si bulat terang bisa muncul dengan tiba-tiba. Tentu saja pelbagai dongeng timbul seputar bola itu.

Sudah lama cahaya itu diteliti, dikejar, dipotret dan bahkan ditembak, tapi hasilnya nihil.

Apakah cahaya itu gas rawa? Tampaknya bukan, sebab angin kencang pun tidak mengganggunya. Mineral bercahaya dari tambang-tambang di daerah itu? Patut disangsikan juga karena munculnya tidak selalu di tempat yang sama. Bidang magnet yang terbentuk di tempat terjadi gempa dan pergerakan tanah? Barangkali. Tahun 1811-1812 empat gempa bumi memang memorak-porandakan kawasan ini. Keberadaannya baru dilaporkan setelah jumlah penduduknya berkembang sekitar zaman Perang Saudara.

Ada orang yang yakin kalau cahaya itu pantulan lampu mobil yang lewat di jalan bebas hambatan sekitar 8 km sebelah timur Devil’s Promenade. Namun, bola itu dilaporkan sudah muncul sejak 1866. Mana ada jalan bebas hambatan dan mobil lalu-lalang waktu itu?

Spooklight bukan satu-satunya tempat bola bercahaya muncul di Amerika. Masih banyak tempat lain. Pemilik bar dan hotel sering memanfaatkannya untuk menarik turis.

Di Wet Mountain Valley di Colorado dikatakan cahaya ajaib muncul hampir setiap malam sejak lebih dari 100 tahun yang lalu. Tempatnya di...kuburan!

Wartawan New York Times khusus datang ke pemakaman Silver Cliff pada 1967 untuk menyaksikannya dengan mata kepala sendiri. Dua tahun kemudian giliran Edward J. Linehan, asisten editor National Geographic ke sana ditemani penduduk Westcliffe bernama Bill Kleine.

Mereka tiba di pemakaman saat hari sudah gelap. Linehan melihat ‘bercak-bercak cahaya suram berwarna biru keputihan’ di atas setiap makam. Ketika ia mendekat, cahaya itu lenyap lalu perlahan-lahan muncul lagi. Ia menyorotkan lampu senternya. Yang kelihatan cuma batu nisan. Lima belas menit lamanya mereka main kucing-kucingan dengan cahaya itu di antara makam-makam.

Linehan mengumpulkan teori-teori, tetapi satu demi satu gugur. Ada yang mengira cahaya itu dikeluarkan oleh bijih beradioaktif. Tetapi ketika diuji dengan geiger counter, ternyata di seluruh kawasan itu tidak ditemukan radioaktif.

Dugaan bahwa ada penipu yang memberi cat pada nisan-nisan juga tidak terbukti. Tidak mungkin pula cahaya itu dikeluarkan gas dari jenazah yang membusuk sebab sejak pergantian abad ini tidak ada lagi jenazah dikuburkan di sana.

Ada yang menyatakan bahwa cahaya itu timbul sebagai ‘efek khusus’ cahaya lampu merkuri pada sisi bukit. Kenyataannya, cahaya itu ada sebelum instalasi lampu dipasang dan tetap ada saat beberapa kali aliran listrik mati.

Sudah banyak peristiwa ajaib bisa dijelaskan secara ilmiah. Namun, bola cahaya sampai sekarang masih merupakan fenomena yang belum bisa diterangkan secara rasional, walaupun sudah dilaporkan lebih dari 1.000 tahun yang lalu, yaitu ketika St. Gregory dari Tours (538-593) menyaksikan dengan kaget dan terheran-heran sebuah bola api yang cemerlang dan menyilaukan muncul di atas iring-iringan orang, termasuk sejumlah pembesar, yang akan meresmikan sebuah tempat ibadat.

[Juli 1999, Majalah Intisari]


More from The Facto

Para Pencari Tuhan 08 Aug 19
Iman 08 Aug 19
Bom Bom Bom 08 Aug 9

^ Back To Top