Search for
Login | Username Password Forgot? | Email: | Create Account
Personal / Other | Entries: 50 | Views: 253 | Updated: 3 years ago | | Add to My Feeds
Report
Ziarah ke Hadramaut
August 19th, 2008

Tarim adalah nama kota kecamatan yang kecil di Provinsi Hadramaut, negara Yaman. Tidak semua peta mencantumkan nama kota itu. Tetapi, sejumlah kiai penganut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, khususnya dari Jawa Timur dan Jawa Tengah, berkunjung ke kota itu.

Ada beberapa kiai dari beberapa pesantren besar dan Rektor UIN Malang. Kunjungan itu untuk meninjau Darul Mustafa, sebuah lembaga pendidikan keagamaan di Tarim yang didirikan pada 1993 oleh Habib Umar al Hafidz. Tingkat pendidikan mulai dari ibtidaiyah sampai pendidikan tinggi.

Kunjungan itu balasan dari kunjungan Habib Umar ke banyak pesantren di Indonesia. Dr Mahathir Mohammad dan juga PM Abdullah Badawi pernah berkunjung ke Darul Mustafa. Banyak mahasiswa atau santri Indonesia yang belajar di Darul Mustafa, tak kurang dari 300 orang. Banyak juga santri atau mahasiswa yang belajar di Rubath Tarim dan al Ahqoff, juga tak kurang dari 300 orang.

Alumni pertama Darul Mustafa dari Indonesia tamat pada 1998. Di Darul Mustafa juga ada santri dari Amerika, Eropa, Rusia, Afrika. Sejumlah penganut Yahudi telah memeluk Islam karena pengaruh Habib Umar dan kini juga belajar di Darul Mustafa. Biaya santri amat murah, Rp 100 ribu per bulan, termasuk makan dan tempat tinggal. Pendidikan di Darul Mustafa menekankan pada tiga aspek, keilmuan, suluk, dan dakwah.

Habib Umar masih muda (45 tahun), ulama Yaman yang punya reputasi internasional. Hafal al-Quran pada usia tujuh tahun dan hafal ratusan ribu hadis. Beliau sering diundang memberi pengajian atau ceramah ke berbagai negara Timur Tengah, Eropa, Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Pada Februari 2008 beliau sempat berceramah di Tebuireng. Ceramahnya bagus, sejuk, dan memukau banyak warga sehingga setiap tahun beliau diundang berkunjung ke Indonesia. Inti ceramah adalah tentang pentingnya memperbaiki akhlak, menumbuhkan keikhlasan, dan menjalin persatuan. Juga menegaskan bahwa Islam adalah agama kasih sayang, persaudaraan.

Seorang peneliti Korea yang wawancara dengan Habib Umar untuk penelitian tentang manuskrip tua, begitu terkesan dengannya lalu belajar tentang Islam kepada beliau dan masuk Islam. Yaman punya penduduk tak kurang dari 20 juta dengan pendapatan per kapita di bawah 1.000 dolar AS. Yaman sebenarnya punya sumber migas tetapi belum banyak yang diolah karena pertentangan antarkabilah sering menghambat proyek eksplorasi dan eksploitasi.

Bangunan umum masih seperti kondisi tahun 1960-an di Indonesia. Jalan di dalam Kota Tarim masih banyak yang belum beraspal. Bandaranya sederhana, sama dengan Halim Perdanakusuma. Selama 25 tahun Yaman Selatan ada di bawah pemerintahan komunis yang tumbang setelah Soviet bubar. Walaupun Yaman bukan negara kaya tetapi mereka mementingkan pendidikan.

Pemerintah membebaskan biaya pendidikan sampai perguruan tinggi. Gaji dosen bisa mencapai Rp 17 juta per bulan. Juga tidak ada orang yang mati kelaparan. Di Tarim keamanan amat terjamin. Mobil dibiarkan tidak dikunci, tidak akan ada yang berani mengambil isinya.

Barang tertinggal di taksi pasti kembali kepada pemiliknya. Dalam konteks ini Yaman adalah negara yang Islami. Saya tidak tahu apakah negara itu juga terbelit penyakit korupsi para pejabatnya, tetapi kalaupun ada, menurut saya tidak separah di negara kita. Kondisi keamanan di atas menunjukkan ciri masyarakat yang punya rasa saling percaya yang tinggi.

Melihat wilayah negara Yaman menjadi satu dengan jazirah Arab, mungkin Yaman mempunyai sumber migas. Artinya, Yaman mempunyai SDA yang besar dan bisa menjadi andalan masa depan. Sekarang tampak mereka ketinggalan dibanding kita. Tetapi, kita sudah menghabiskan banyak sekali SDA, tetapi banyak masyarakat yang miskin.

Hambatan besar Yaman ialah ketidakmampuan mempersatukan sekian banyak kabilah. Perlu kerja keras dan waktu amat panjang untuk mengejar ketertinggalan. Sebagian besar dari Wali Songo berasal dari Yaman. Para habaib yang kini ada di seluruh pelosok Indonesia berasal dari pendakwah Yaman yang hijrah ke Indonesia. Ada informasi kakek ke-11 dari KHM Hasyim Asy’ari adalah Abubakar Basaiban, tetapi tidak ada kesempatan dan tidak tahu ke mana harus menanyakan keabsahan informasi itu.

Rombongan berziarah ke Zanbal, pemakaman 1.000 wali termasuk 80 qutb. Pemakaman itu tujuan utama ziarah. Kami sempat maulid Nabi di atas atap masjid tua, di alam terbuka. Terlihat dengan jelas khaul, tahlil, maulid dan shalawat kita peroleh dari muballigh pertama yang berasal dari Hadramaut.

Tradisi bernuansa tasawwuf juga banyak dijalankan oleh ulama Hadramaut. Riwayat tentang karomah wali banyak kita dengar. Salah satu yang menarik ialah riwayat Sayyidina Ali Kholi’ Qosam. Beliau menjadi imam shalat dan ketika membaca tahiyyat pada kalimat “assalamu alaika ayyuhan nabiyyu...”, segera setelah itu terdengar suara menjawab salam itu.

Suara itu terdengar jelas oleh jamaah dan dianggap sebagai suara Rasulullah SAW. Itu sering terjadi sehingga masjid tempat Ali Kholi’ Qosam menjadi imam dikunjungi orang dari berbagai tempat. Saya punya pengalaman, ketika mengikuti majelis dzikir di bawah pimpinan almarhum Haji Umar Danusubroto (1991-1994), beliau mengatakan kalau saat kita berdzikir dan berdoa di majelis itu dan tercium bau harum, itu artinya ruh Rasulullah hadir. Saya saat itu antara percaya dan tidak apa yang beliau katakan.

Mungkin ada yang mengatakan itu musyrik. Tentu itu hak setiap orang. Tetapi bagi saya, walaupun itu tidak rasional, mungkin saja terjadi. Allah mengatakan bahwa kita tidak diberi tahu tentang ruh kecuali sedikit. Kalau itu dikatakan musyrik, bagaimana bisa banyak orang yang ahli maksiat (judi, mabuk, zina) berubah 180 derajat menjadi ahli ibadah yang amat tekun, setelah mengikuti majelis dzikir itu? Saya sendiri setelah mengikuti majelis dzikir itu sampai Haji Umar wafat (1994), bisa memperoleh ketenangan dan berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Allah.

Warga Yaman banyak yang memakai sarung. Santri di Darul Mustafa Tarim, kalau tidak memakai gamis, tentu memakai sarung. Saat kami menunggu di bandara kota kecil Seiyun, cukup banyak petugas yang memakai sarung. Bahkan pada saat kami memenuhi undangan makan siang di rumah salah satu pejabat di Tarim, ada petugas keamanan memakai sarung dan menyandang pistol di pinggangnya. Tampaknya tradisi sarungan dari para ulama dan santri di Indonesia, khususnya di Jawa, berasal dari tradisi Hadramaut.

Perempuan di sana harus memakai cadar termasuk para pendatang. Maka para ibu anggota rombongan kami, termasuk istri saya, harus menggunakan kebaya hitam dengan muka tertutup kecuali ada lubang di mata. Bahkan ada yang tidak boleh terlihat matanya dengan memakai semacam kain yang menerawang pada bagian mata.

Perempuan tidak boleh berkeliaran di jalan tanpa ada pendamping. Perempuan di sini dan juga di sejumlah negara Arab lainnya amat terasa menjadi warga negara kelas dua. Perempuan Indonesia harus bersyukur mendapat kebebasan yang besar. Cara mensyukurinya ialah menggunakan kebebasan itu dengan bertanggung jawab.

[Salahuddin Wahid, 30 Mei 2008, Republika]


More from The Facto

Tentang Film Fitna 08 Aug 19
Ziarah ke Hadramaut 08 Aug 19
Para Pencari Tuhan 08 Aug 19

^ Back To Top